Wednesday, October 31, 2018

Hanya 4 Kaidah Dalam Berdakwah !!

Berdakwah Tidak Asal Berdakwah

Mari kita simak Artikel berikut sampai selesai

Empat Kaidah Penting Dalam Berdakwah diantaranya adalah :

1)  Ilmu
2)  Amal
3)  Dakwah
4)  Sabar

Mari kita jabarkan satu per satu .....

dakwah tauhid



Ilmu, Orang yang berdakwah tanpa ilmu sama saja omong kosong, mengarang cerita, Dakwah harus menggunakan ilmu.

Sebagai mana firman Allah Ta'ala sebagai berikut,

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai perngetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungan jawabnya (Al-Israa':36)".

Yang di maksud ilmu ini adalah mencakup ilmu dunia dan akhirat. Seorang yang ingin menjadi Dokter yang berkualitas harus belajar dahulu. Begitu pula bagi seorang muslim yang ingin mengamalkan ajaran islam, ia harus mempunyai ilmu terlebih dahulu, sehingga tidak menjadikan kita beribadah tanpa ilmu sebagaimana kaum nashrani yang Allah katakan mereka adalah kaum yang salah.

Dalam hal ini Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang dibacakan setelah salam seusai shalat shubuh.


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amalan yang di terima."(HR. Ibnu Majah).

Dalam hadist tersebut ilmu lebih dahulu disebutkan, Karena seseorang tidak tahu mana rizki yang halal dan yang haram jika tidak memiliki ilmu. Dan ilmu yang diminta dalam hadist ini adalah ilmu yang bermanfaat, baik dunia maupun akhirat.



Setelah seseorang itu memiliki Ilmu hendaklah menjadikan ilmu tersebut menjadi ilmu yang bermanfaat, bukan sebuah ilmu yang bermanfaat jika tidak diamalkan, karena amal adalah buah dari ilmu. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha semaksimal mungkin mengamalkan ilmu yang ia dapatkan.

Kemudian Dakwahkanlah ilmu yang sudah diamalkan tadi, Berdakwah merupakan suatu kegiatan yang amat mulia. Dimana para Nabi dan Rasul mengemban misi ini. Dan dakwah yang mulia merupakan dakwah yang menyeru kepada "TAUHID" dan menjauhkan seseorang dari segala macam bentuk kesyirikan. Allah Ta'ala berfirman dalam surat An-Nahl:36 yang artinya,

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat ( untuk menyerukan) : 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhi thagut itu'."

Dalam hal ini Rasulullah juga memberikan motivasi kepada umatnya untuk gemar dalam menyebarkan kebaikan, sebagaimana Hadist riwayat Muslim sebagai berikut,


مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Yang artinya, " Barangsiapa yang menunjukkan sebuah kebaikan, maka baginya pahala seperti pelaku (yang mengerjakan kebaikan)."

Allah juga memberi pujian terhadap seorang yang menyeru untuk berjuang di jalan Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Fushilat ayat 33 yang artinya,

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, dan mengerjakan amal yang saleh....."




Lalu Bersabarlah dalam mendakwahkan kebaikan, pasti akan selalu ada gangguan dalam berdakwah. karena tidak ada satu dakwah pun yang mulus dari gangguan, termasuk dakwahnya para Nabi dan Rasul. Para ulama menjadikan sabar terbagi menjadi 3 yaitu :
  1. Sabar dalam menjalankan ketaatan
  2. Sabar dalam menjauhi kemaksiatan
  3. Sabar dalam menghadapi musibah
Dalam dakwah, gangguan yang diterima termasuk sabar dalam menjalankan ketaatan. karena dakwah adalah sebuah bentuk ketaatan kepada Allah Ta'ala.


Keutamaan Berdakwah


  1. Umat Terbaik adalah Pendakwah
  2. Pendakwah itu memegang perkataan baik
  3. Dakwah berarti menempuh perkara yang besar
  4. Mendapat pahala dari orang yang mengikuti tanpa mengurangi pahala mereka
  5. Mendapat rahmat dari Allah, doa dari malaikat, penduduk langit dan bumi
  6. Menjalankan pesan Nabi untuk saling mengingatkan dalam kebaikan

Dakwahi Dengan Sabar


Berdakwah dengan sabar ini juga memiliki 4 pedoman penting yang diantaranya adalah :
  • Ikhlas.
  • Ilmu.
  • Berdakwah dengan Hikmah & Sabar.
  • Dan melihat kondisi orang yang didakwahi.
Dari 4 pedoman tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa berdakwah itu harus dengan :

  • Hikmah
  • Santun
  • Menegur yang salah dengan mendoakannya
  • Skala prioritas dalam berdakwah
  • Tidak membuat orang yang di dakwahi jenuh
  • Pantang menyerah dalam berdakwah terutama orang terdekat

A. Berdakwah dengan Hikmah


Allah Ta'ala berfirman,

"Serulah ( Manusia ) kepada jalan rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Q.S An-Nahl: 125)


Dan juga Hadist Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata,


جَاءَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِى طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ ، فَنَهَاهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ ، فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ


"Ada seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang tindakan tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas memerintahkan para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun di siram.
(HR. Bukhari, no.221 dan Muslim, no.284)


Dari hadist ini kesimpulannya adalah bahwa :
  1. Kencing itu najis, sehingga harus di siram.
  2. Wajibnya membersihkan lantai masjid dari najis
  3. Berdakwahlah yang ringan pahamkan tentang dasar agama
  4. kemungkaran wajib diingkari.
  5. Bahwasannya kencing di dalam masjid itu tidak boleh
  6. Nabi mengajarkan hikmah dalam dakwah yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Ini menunjukkan bahwa berdakwah harus berbeda antara yang sudah paham akan agama dan yang belum paham agama.


B. Menyikapi dengan Santun



عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِىِّ قَالَ بَيْنَا أَنَا أُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ. فَرَمَانِى الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَاثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَىَّ. فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِى لَكِنِّى سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَبِأَبِى هُوَ وَأُمِّى مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلاَ بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِى وَلاَ ضَرَبَنِى وَلاَ شَتَمَنِى قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ »


"Dari Mu'awiyah bin Hakam As-Sulaimy Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Aku ketika itu shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu ada seseorang yang bersin dan ketika itu aku menjawab 'yarhamukallah'. Lantas orang-orang memalingkan pandangan kepadaku. Aku berkata ketika, "Aduh, celakalah ibuku ! Mengapa Anda semua memandangku seperti itu ?" Mereka bahkan menepukkan tangan mereka ke paha mereka. Setelah itu barulah aku tahu bahwa mereka menyuruh diam. Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selesai shalat, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu (ungkapan sumpah arab), aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, beliau tidak memukul, dan tidak memakiku. Beliau bersabda saat itu, 'Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas didalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbur, dan bacaan al-quran.'" (HR. Muslim, no.537).

kesimpulan dari hadist tersebut ialah :
  • Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat santun dalam menasehati orang lain.
  • tetap menegur yang salah.
  • Berdakwah dengan kata-kata yang baik, perlu kesantunan dalam berdakwah.
  • mengucap alhamdulillah ketika bersin dibolehkan.
  • diajarkan adab saat bersin.
  • Berdakwah dengan bahasa setempat.
  • Bicara dalam sholat membatalkan sholat.
  • Menasehati itu tidak harus menghardik, memukul atau mencela.

C. Menegur Yang Salah dengan Mendoakannya


Dalam riwayat Abu Daud disebutkan bahwa Abu Bakrah ruku' sebelum masuk shaf, kemudian ia berjalan menuju shaf. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selesai shalat, beliau berkata "Siapa di antara kalian yang tadi ruku' sebelum masuk shaf lalu ia berjalan menuju shaf ?" Abu Bakrah mengatakan, "Saya," Kemudian Nabi ﷺ bersabda,

زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ
yang artinya : "Semoga Allah memberikan terus semangat padamu. Namun seperti itu jangan di ulangi. (HR. Abu Daud, no.684).

Dalam hadist tersebut bisa diambil kesimpulan diantaranya :
  • Mendapatkan rukuk dalam shalat sama dengan satu raka'at ( Surat Al-fatihah di tanggung Imam), Hadist ini juga memjadi dalil apabila imam membaca al-fatihah maka mak'mum mendengarkan.
  • Tetap ada amar ma'ruf nahi mungkar.
  • Banyak gerak dalam sholat membatalkan sholat, standart nya bukan bergerak sebanyak tiga kali, namun jika ia bergerak dan orang lain menilai bahwa ia sedang tidak sholat.
  • Mendakwahi orang yang salah dan tetap mendoakan dia.

D. Skala Prioritas Dalam Berdakwah


Aisyah Radhiyallahu 'anha, mengatakan,


إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنْ الْمُفَصَّلِ فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوا لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا وَلَوْ نَزَلَ لَا تَزْنُوا لَقَالُوا لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا لَقَدْ نَزَلَ بِمَكَّةَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَجَارِيَةٌ أَلْعَبُ بَلْ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ وَمَا نَزَلَتْ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَالنِّسَاءِ إِلَّا وَأَنَا عِنْدَهُ رواه البخاري


"Sesungguhnya yang pertama kali turun darinya ialah satu surat dari al-mufashal ( Surat-Surat Pendek) yang berisi penjelasan tentang surga dan neraka, sehingga apabila manusia telah mantap dalam islam, maka turunlah (ayat-ayat tentang) halal dan haram, Seandainya yang pertama kali turun (kepada meraka) adalah "jangan minum khamr (minuman keras), "tentu mereka akan menjawab "kami tidak akan meninggalkan khamr selama-lamanya". Seandainya yang pertama turun adalah 'jangan berzina', "tentu mereka akan menjawab "kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya"". Sesungguhnya telah turun firman Allah "sebenarnya hari Kiamat adalah hari yang dijanjikan kepada mereka, dan Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit" (QS.Al-Qamar ayat 46) di Mekkah kepada Muhammad ﷺ, dan pada waktu itu aku masih kecil yang senang bermain-main.
Surat Al-Baqarah dan An-Nisa' barulah turun setelah aku menjadi istri Nabi ﷺ."
(HR. Bukhari, no.4993).

Dalam point ini telah disampaikan hadist dari Aisyah radhiyallahu 'anha, hadist tersebut memiliki makna diantaranya :
  1. Bahwa berdakwah adalah dengan memprioritaskan Akidah, Tauhid.
  2. Setelah Iman menjadi kuat baru perkenalkan Halal dan Haram.
  3. Di antara pembahasan akidah adalah mengingatkan surga dan neraka.
  4. Surat tentang penguatan iman lebih awal turun dari pada ayat -ayat yang kaitannya dengan hukum.

E. Tidak Membuat Orang Yang di Dakwahi Jenuh


عَنْ أَبِي وَائِلِ قَالَ : كاَنَ عَبْدُ الله يُذَكِّرُ النَّاسَ فِي كُلِّ خَمِيسٍ , فَقَالَ لَهُ رَجُلُ : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمِ .” قَالَ : أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلّم يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا


Sebagaimana yang di ucapkan Dari Abu Wa'il yang berkata bahwa Abdullah memberi pelajaran kepada orang-orang setiap hari kamis, "kemudian seseorang berkata, "Wahai Abu Abdurrahman (Ibnu Mas'ud) aku ingin engkau memberi pelajaran kepada kami setiap hari. "Dia menjawab,"Sungguh, aku tidak mau melakukannya karena takut membuat kalian bosan. Aku ingin memperhatikan kalian saat memberi pelajaran sebagaimana Nabi ﷺ memperhatikan kami karena khawatir jenuh dan bosan." 
(HR. Bukhari, no.70).

Dari hadist tersebut bahwasannya dalam dakwah kita tidak boleh membuat orang menjadi bosan, sehingga tidak mau menerima dakwah kita. Buatlah suasana yang mampu membuat orang menjadi nyaman dalam menerima dakwah. Contohnya seperti memberikan pengajaran tidak setiap hari, menyampaikan materi yang bervariasi.

dalam hal ini bisa di tarik kesimpulan di antaranya :
  • Boleh mengkhususkan waktu kajian pada hari tertentu.
  • Hendaklah memilih waktu terbaik dalam memberi nasihat.
  • Jangan sampai membuat jamaah bosan dan jenuh.
  • Futur (Masa tidak Semangat) adalah suatu yang wajar asalkan tidak keluar dari koridor ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

F. Jangan Putus Asa Dalam Berdakwah


Dari Abu Kasir, Yazid bin Abdurrahman, Abu Hurairah bercerita kepadaku, "Dulu aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam ketika dia masih musyrik. Suatu hari aku mendakwahinya namun dia malah memperdengarkan kepadaku cacian kepada Rasulullah ﷺ yang tentu merupakan kalimat-kalimat yang tidak kusukai untuk kudengar. Akhirnya aku pergi menghadap Rasulullah ﷺ Sambil menangis. Ketika telah berada di hadapan Rasulullah ﷺ aku berkata, "Ya Rasulullah, sungguh aku berusaha untuk mendakwahi ibuku agar masuk Islam namun dia masih saja menolak ajakanku. Hari ini kembali beliau aku dakwahi namun dia malah mencacimu. Oleh karena itu berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah." Rasulullah ﷺ lantas berdoa, "Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu dari Abu Hurairah."

Kutinggalkan Rasulullah ﷺ dalam keadaan gembira karena Nabi mau mendoakan ibuku. Setelah aku sampai di depan pintu rumahku ternyata pintu dalam kondisi terkunci. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, beliau mengatakan, "Tetaplah di tempatmu, hai Abu Hurairah". Aku mendengar suara guyuran air. Ternyata ibuku mandi. Setelah selesai mandi beliau memakai jubahnya dan segera mengambil kerudungnya lantas membukakan pintu. Setelah pintu terbuka beliau mengatakan, "Hai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Mendengar hal tersebut aku bergegas kembali menemui Rasulullah ﷺ. Aku menemui beliau dalam keadaan menangis karena begitu gembira. Kukatakan kepada beliau, "Ya Rasulullah, bergembiralah. Sungguh Allah telah mengabulkan doamu dan telah memberikan hidayah kepada ibunya Abu Hurairah. "Mendengar hal tersebut beliau memuji Allah dan menyanjungnya lalu berkata, "Bagus," Lantas kukatakan kepada beliau, "Ya Rasulullah, doakanlah aku dan ibuku agar menjadi orang yang dicintai oleh semua orang yang beriman dan menjadikan kamu orang yang mencintai semua orang yang beriman." Beliau pun mengabulkan permintaanku. Beliau berdoa, "Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini yaitu Abu Hurairah dan ibunya orang yang dicintai oleh semua hamba-Mu yang beriman dan jadikanlah mereka berdua orang-orang yang mencintai semua orang yang beriman".

Karena itu tidak ada seorang pun mukmin yang mendengar tentang diriku ataupun melihat diriku kecuali akan mencintaiku. (HR. Muslim, no.6551).

Dalam hadist tersebut terdapat makna bahwasannya Abu Hurairah tidak menyerah dalam mendakwahkan Islam kepada ibunya meskipun ibunya sangat sulit untuk diajak kepada Islam.

Kemudian bolehnya meminta doa kepada orang Sholeh dalam mendakwahi orang tua, Sebagaimana Abu Hurairah meminta Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun perlu diperhatikan dalam hal ini terdapat 3 syarat dalam meminta doa kepada orang sholeh yang diantaranya yaitu :
  • Orang yang dimintai doa masih Hidup.
  • Dia orang yang Adil.
  • Dia orang yang mampu.
Maka kita simpulkan bahwa :
  • Dakwah penting juga pada keluarga terdekat, Allah Ta'ala berfirman, dalam Q.S Asy-Syu'araa : 214 "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."
  • Dakwah kadang mendapat cacian bahkan dari keluarga dekat.
  • Perlu sabar dalam menyampaikan dakwah.
  • Tetap berdakwah kepada keluarga non-muslim.
  • Boleh tawassul dengan meminta doa pada orang yang shalih yang masih hidup.
  • Tidak boleh putus asa dalam berdakwah.
  • Keutamaan Abu Hurairah dan doa baik Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam padanya, begitu pula doa baik untuk ibunya dari beliau.

Penutup


Demikianlah 4 Kaidah penting yang harus dimiliki seorang muslim dalam mengembangkan kegiatan dakwah Islam dan Sunnah.

Ke empat kaidah di atas, yaitu ilmu, amal, dakwah dan sabar, semuanya telah tercakup dalam Firman Allah Ta'ala dalam surah Al-'Ashr.

Allah Ta'ala berfirman,

Yang artinya : "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran (Q.S Al-'Ashr : 1-3).

Semoga kita bisa mengamalkan semuanya dan Allah beri kemudahan dalam menjalankannya.

Amiinn.
_____

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.



Sumber Artikel


[1] Di tulis dari Kajian Safari Dakwah Ustadz M.Abduh Tuasikal 27/10/2018 Lokasi: Pondok Tahfidz An-Naba, Suro, Kalibagor, Banyumas.

Next

Related

Mohon untuk berkomentar dengan baik dan bijak
EmoticonEmoticon