Beragama Dengan Manhaj Salaf
Apa Itu Manhaj ?
Apa itu Salaf ?
Apakah Salaf berkaitan dengan Salafi ?
Benarkah Salafi Itu Aliran ?
Apakah Salafi itu Sesat ?
Sering sekali terlintas di benak kita pertanyaan seperti itu, Maka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti diatas kita harus tahu terlebih dahulu apasih “Manhaj Salaf” itu.
Memahami Makna Kata Manhaj, Salaf, Salafi atau Salafiyah
Manhaj itu lebih luas dari aqidah , sehingga apabila manhaj kita sesat dan bathil, maka kesesatan dalam manhaj ini akan terbawa kedalam aqidah dan ibadah kita.
Oleh karena itu, maka wajib bagi kita untuk berpegang teguh pada manhaj yang benar dan haq yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam kabarkan di dalam sabdanya,
“Yang aku pada hari ini bersama sahabatku berada di diatasnya”. Yaitu manhaj salaf, yang secara haqiqi inilah yang dinamakan dengan ahlussunnah wal jamaah.
Selanjutnya Kita akan membahas kata salaf. Telah dijelaskan apa itu manhaj dan apakah itu salaf ?
Salaf secara bahasa artinya orang yang terdahulu , baik dari sisi ilmu, keimanan, keutamaan atau jasa kebaikan. Dengan demikian kita bisa serupakan makna kata salaf ini dengan istilah nenek moyang atau leluhur dalam bahasa kita.
Dalam kamus Islam kata ini bukan barang baru. Akan tetapi pada jaman Nabi kata sudah dikenal.
Seperti terdapat dalam sebuah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada puterinya Fathimah radhiyallahu ‘anha. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik salaf mu adalah aku.” (HR. Muslim).
Oleh sebab itu secara bahasa , semua orang terdahulu adalah salaf. Baik yang jahat seperti Fir’aun , Qarun, Abu Jahal maupun yang baik seperti Nabi-Nabi, para syuhada dan orang shalih dari kalangan sahabat.
Namun yang di bahas bukanlah makna bahasa akan tetapi makna istilah .
Maka di nukilkan dari jawaban Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan “Faidahnya adalah supaya kita mengetahui makna antara objek penamaan syari’at dan objek penamaan lughawi atau secara bahasa , sehinga akan jelas bagi kita bahwasannya istilah – istilah syari’at tidaklah melenceng secara total dari pemaknaan bahasanya.
Oleh sebab itulah anda jumpai para fuqaha’ (ahli fikih atau ahli agama) rahimahullah setiap kali hendak mendefinisikan sesuatu maka mereka pun menjelaskan bahwa pengertiannya secara etimologi (bahasa) adalah demikian sedangkan secara terminologi (istilah) adalah demikian.
Hal ini diperlukan supaya tampak jelas bagimu adanya keterkaitan antara makna lughawi dengan makna isthilahi.
Siapakah Salaf itu ?
Apabila Ulama akidah membahas dan menyebut kata salaf maka yang di maksud adalah di antara 3 kemungkinan yang pertama adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kedua adalah sahabat dan murid-murid nya (tabi’in), dan yang ketiga adalah sahabat, tabi’in dan juga para imam yang terpercaya di dalam islam yaitu yang menghidupkan sunnah dan berjuang membasmi bid’ah.
Sebagaimana yang tercantum dalam haditst nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,
Yang artinya : sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi para sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringinya(yaitu generasi tabi’in), kemudian orang – orang yang mengiringinya ( generasi tabi’ut tabi’in). (Hadist mutawatir, riwayat Bukhari, dan lainnya).
Jadi Rasul berserta para sahabatnya adalah salaf untuk umat ini.
Sehingga manhaj salaf adalah sebuah istilah untuk suatu jalan yang terang lagi mudah, yang telah di tempuh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami agama islam yang dibawa oleh nabi kita muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu apa itu Salafi atau salafiyah ?
Apakah berkaitan dengan Salaf ?
Salafi atau salafiyah adalah pengikut para salaf yaitu menisbatkan diri kepada generasi para sahabat yang sudah dipuji Allah dan Rasul-Nya dan terjaga secara umum dari bersepakat dalam kesalahan. orang yang meneladani manhaj salaf dalam beragama. Merekalah yang dimaksud dengan ahlussunnah wal jamaah.
Karena selalu mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersatu di atas kebenaran serta tidak memberontak kepada Pemerintah Muslim.
Lalu bid’ah kah memberi gelar salafiyah , jawabannya adalah kata salafiyah memang belum digunakan oleh Rasul dan sahabatnya karena pada saat itu hal ini belum dibutuhkan. Pada saat itu kaum muslimin generasi awal masih hidup dalam pemahaman Islam yang shahih sehingga tidak dibutuhkan penamaan khusus seperti ini.
Penamaan salafiyah ini lebih layak untuk dipakai daripada istilah hanbali, hanafi dan lainnya . karena penamaan hanbali dan hanafi adalah penisbatan kepada individu ataupun kelompok yang tidak terdapat dalil tegas tentang keutamaan serta tidak terjamin dari kesalahan mereka secara kelompok.
Mengapa Harus Bermanhaj Salaf ?
Haruskah kita bermanhaj salaf ?
Mungkin inilah pertanyaan yang sering di lontarkan , maka jawabannya adalah ....
Ya , itu harus.
Kenapa ?
Hadist Mu’awiyah bin Abu Sufyan , Dari Abu ‘Amir a-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasannya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami,
lalu berkata : “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah beridir di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “ Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) terpecah menjadi 72 golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan, dan yang 72 akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, Yaitu al-jama’ah”. (HR.Abu dawud dalam kitabus sunnah Bab Syarhus sunnah no. 4597).
” Siapa itu al-jama’ah “ ?
Al jama’ah berarti orang-orang yang bersatu di atas kebenaran yaitu jama’ah para sahabat beserta orang-orang sesudah mereka hingga hari kiamat yang meniti jejak mereka diatas Al-Quran dan As Sunnah secara lahir dan batin.
Ukuran seseorang berada diatas jama’ah bukanlah jumlah. Akan tetapi sejauh mana dia berpegang teguh dengan kebenaran yaitu islam yang murni yang di pahami oleh pra sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum.
Lalu apa itu As Sunnah ? As Sunnah disini bukanlah istilah fiqih yang apabila perbuatan ibadah dikerjakan berpahala akan tetapi bila ditinggalkan tidak berdosa. Namun As Sunnah di sini berarti sebuah jalan , yang secara istilah artinya adalah ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya baik keyakinan, perkataan, ataupun perbuatan.
Sehingga yang di maksud As Sunnah adalah Ahlussunnah yaitu berpegang teguh pada seluruh ajaran Rasul dan para sahabat , baik yang hukumnya wajib maupun sunnah.
Salah satu indikasi kebenaran ajaran manhaj salaf adalah bahwasannya ia berusaha berpegang teguh kepada al-Qu’an dan Sunnah, berusaha menjalin persaudaraan diatas Al-Qur’an dan Sunnah.
Berikut adalah point – point berdasarkan hadist di atas yang akan menguatkan bahwasannya kita harus bermanhaj salaf , diantaranya adalah :
- Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus.
- Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Allah akan memberikan ridha dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh nikmat, kekal abadi di dalamnya bagi orang yang dengan sepenuh hati mengikuti manhaj salaf.
- Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang dengan erat, tatkala banyak munculnya firqoh-firqoh didalam memahami agama islam, sebagaimana yang di wasiatkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Mereka yang mengikuti manhaj salaf adalah golongan yang selamat dikarenakan berada di atas jalan yang ditempuh oleh rasulullah dan para sahabatnya.
- Mereka yang mengikuti manhaj salaf dengan benar adalah yang senantiasa tampil diatas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dalam Al-Qur’an pun Allah telah menjelaskan dalam firmannya,
“kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya(Sunnahnya), Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikan itu lebih utama(bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.”(An-Nisa : 59).
Adapun Hadist dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya diantaranya adalah
“Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al-khulafa’ Ar-Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham...”(HR.Abu Dawud).
Landasan Pokok Dalam Bermanhaj Salaf
1. Al-Qur’anul Karim
2. Sunnah Shahihah ( Hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih) Mengapa demikian? Karena di dalam sunnah terdapat hadist-hadist yang palsu dan lemah, yang bercampur dengan hadist shahih , maka para ulama juga bersepakat perlunya penyeleksian mana yang hadist dan mana yang bukan. Oleh karena itu para salafiyyin bersepakat bahwa point yang kedua ini, tidak langsung diambil apa adanya, tanpa melihat shahih atau tidaknya.
3. Al-Qur’an dan Sunnah wajib di pahami sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Karena telah bermunculan kelompok-kelompok islam yang menyebarkan racun dan pemahaman yang sesat, inilah realitanya Mu’tazilah, Murji’ah, Qadariyyah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah dan masih banyak lagi, penyelewengan yang terdapat pada kelompok–kelompok itu penyebabnya adalah mereka tidak berpegang teguh pada pemahaman salafus shalih. Oleh karena itu para ulama’ peneliti berkata,
Segala kebaikan dalam mengikuti salafush shalih. “Segala kejahatan tertumpu pada bid’ah para Khalaf (generasi sesudah salaf)”. Ini bukanlah sebuah kalimat tanpa dasar , ini merupakan simpulan dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Berfirman,
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min . Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” (Q.S An-Nisa : 115).
Maksud dari firman allah tersebut adalah agar seseorang tidak menunggangi kepalanya sendiri dengan mengatakan “Beginilah saya memahami Al-Quran dan beginilah saya dalam memahami Hadist”. Maka dikatakan kepadanya : “Wajib bagi kamu memahami Al-Qur’an sesuai dengan pemahaman orang-orang yang pertama kali beriman (Salafush shalih).
Salaf dan Pengikutnya Golongan Yang Mendapat Ridho Allah
Dalam Qur’an Allah berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama ( masuk islam ) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merakapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar ( Q.S At-Taubah : 100 ).
Dalam ayat ini Allah memuji 3 golongan manusia yaitu kaum muhajirin, kaum anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka kita katakan bahwa Muhajirin dan Anshar itulah generasi para salafush shaleh.
Imam ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Allah ta’ala mengabarkan bahwa keridhaan-Nya tertuju kepada orang-orang yang terlebih dahulu (masuk islam) yaitu kaum muhajirin dan anshar dan orang – orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dan bukti keridhaan-Nya kepada mereka adalah dengan mempersiapkan surga-surga yang penuh akan kenikmatan serta kelezatan yang abadi bagi mereka ...” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/140).
Syaukani menjelaskan bahwa yang di maksud dengan, “Orang-orang yang mengikuti” di dalam ayat at-taubah tersebut adalah orang-orang sesudah mereka (para sahabat) hingga hari kiamat. Adapun kata “dengan baik” merupakan ciri pembatas yang menunjukkan jati diri mereka. Artinya adalah mereka orang-orang yang mengikuti sahabat dengan senantiasa berpegang teguh pada kepaikan dalam hal perbuatan maupun perkataan sebagi bentuk peniruan mereka terhadap As sabiquunal Awwalun yaitu para kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Manhaj Salaf Sebagai Jalan Keluar Berbagai Perselisihan
Maka dengan kita berpemahaman salaf itu merupakan jalan bagi kita untuk keluar dari sebuah perselisihan , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan air mata menetes deras. Maka kamipun mengatakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah Seolah-olah ini merupakan nasihat dari orang yang hendak berpisah.Maka sudahilah kiranya anda memberikan wasiat kepada kami".
Beliau pun bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian supaya senantiasa bertakwa kepada Allah. Dan tetaplah mendengar dan taat (kepada pemimpin). Meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sesudahku niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah dengan Sunnahku, dan Sunnah para khalifah yang lurus dan berpetunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham. Serta jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (didalam agama). Karena semua bid’ah dalah sesat".(HR. Abu Dawud no.4607).
Yaitu dengan berpegang teguh dengan Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin. Imam Nawawi menerangkan bahwa yang dimaksud Khulafa’ur Rasyidin adalah para khalifah empat yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman Dan Ali radhiyallahu’anhum.
Hakikat Ahlussunnah Wal Jamaah
Ahlussunnah wal jamaah adalah orang-orang yang berpegang teguh pada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah para sahabatnya dan juga yang mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka dalam keyakinan, berucap dan mengerjakan amalan, demikian pula bagi orang-orang yang konsisten di jalan Sunnah dan menjauhi Bid’ah.
Dengan mengikuti pemahaman mereka itu merupakan hidayah sedangkan apabila menyelisihi mereka itu merupakan kesesatan. Mereka itulah yang di sebut dengan istilah “Salaf”.
Ahlussunnah wal jamaah juga memiliki beberapa sebutan lain dikalangan para ulama yang di antaranya adalah :
- Ahlul Hadist ( pengikut dan pembela hadist)
- Ahlul Atsar ( Pengikut jejak Salaf)
- Ahlul Ittiba’ ( Peneliti Sunnah Nabi)
- Al Ghurabaa’ ( orang – orang yang asing dari keburukan)
- Ath Thaa’ifah Al Manshurah ( Kelompok yang mendapat pertolongan Allah)
- Al Firqah An Najiyah ( Golongan yang Selamat)
Adapun ahlul bid’ah adalah lawan dari ahlussunnah mereka dalah orang-orang yang tetap mengerjakan bid’ah walaupun telah diberikan dalil hujjah kepada mereka, baik bid’ah i’tiqadiyyah atau keyakinan maupun amaliyah atau bid’ah dalam amalan.
Namun dalam menghukumi seseorang atau kelompok jatuh sebagai ahlul bid’ah itu tidak boleh sembarangan, Syaikh Al Albani berkata. “Terjatuhnya seorang ulama dalam bid’ah tidaklah secara otomatis menjadikannya sebagai ahli bid’ah ......
Ada dua syarat agar seseorang bisa dikatakan ahli bid’ah yaitu :
- Ia bukanlah seorang mujtahid, namun seorang pengikut hawa nafsu.
- Berbuat bid’ah merupakan kebiasaannya.
Baca Juga : Waspadai Bid'ah , Setiap Bid'ah itu sesat !!
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan mengenai sebagian ciri-ciri Ahlul Bid’ah, diantara cirinya adalah :
- Mereka memiliki karakter selain karakter Islam dan Sunnah sebagai akibat dari bid’ah bid’ah yang mereka ciptakan, baik yang menyangkut perkataan, perbuatan, dan keyakinan.
- Sangat Fanatik kepada Pendapat-pendapat golongan mereka. Yang akhirnya menjerumuskan mereka dan menolak kebenaran, meski kebenaran itu sudah tampak jelas bagi mereka.
- Membenci para Imam Umat Islam dan para pemimpin agama.
Lalu bagaimanakah ciri Ahlussunnah wal jamaah ?
Mari kita simak artikel ini sampai akhir ....
Ciri – Ciri Manhaj Salaf
- Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, bukan pemahaman pribadi atau kelompok dan organisasi tertentu.
- Mendahulukan dalil Al-Qur’an dan Sunnah daripada akal logika, perasaan, mimpi, atau pendapat siapa pun.
- Menegakkan tauhid dan sunnah, serta menjauhi bid’ah dan kesyirikan, dan senantiasa berusaha untuk taat kepada Allah ta’ala dan tidak meremehkan dosa sekecil apapun.
- Selalu menjaga tali silaturahmi, ukhuwah dan persatuan diatas kebenaran. Dan saling menasihati dan mengingatkan akan bahaya kesesatan.
- Memuliakan Ulama dan taat kepada pemerintah muslim dalam perkara yang tidak bertentangan dengan hukum Allah, dan tidak memberontak kepada pemimpin muslim yang adil maupun dzalim, tetapi menasihati dengan cara sembunyi-sembunyi tidak mengghibah dan menyebarkan aib pemerintah muslim.
Salafi Bukan Organisasi atau Aliran Tertentu
Salafi bukanlah sebuah sekte, aliran, ataupun kelompok tertentu , namun salafi adalah manhaj atau metode beragama, Sehingga semua orang yang ada di dunia dimanapun dan kapanpun adalah seorang salafi apabila ia beragama islam dengan manhaj salaf tanpa di batasi keanggotaan.
Sebagian orang mengira bahwa salafi adalah sebuah sekte, aliran sebagaimana jamaah tabligh, Ahmadiyah, Naqsabandiyah dan lain-lain. Ataupun menganggap sebagai suatu organisasi sebagaimana NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir dan lainnya , Ini merupakan Kesalahan.
Kata salaf sendiri sudah digunakan oleh ulama sejak dahulu, kata salaf bukanlah kata yang baru. Ulama sudah menggunakannya, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana pada hadist Nabi yang kami tulis di awal.
Berikut juga ada nukilan perkataan ulama-ulama sejak dahulu yang sudah dikenal oleh kita diantaranya adalah :
- Imam Syafi’i rahimahullah
Dan aku mengakui hak para Salaf yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menerima keutamaan-keutamaan mereka, dan aku menahan diri dari perkara yang mereka percekcokan baik yang kecil atau besar. (Al-Amru bi-ittiba’,As-Suyuthi).
- Imam An-Nawawi rahimahullah
Dalam hal ini syaikh ‘Ubaid menjelaskan yang ringkasnya , “Dakwah Salafiyyah tidak didirikan oleh seorang manusia pun. Bukan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab ataupun saudaranya Imam Muhammad Bin Su’ud, tidak juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya, bukan pula oleh empat Imam Mazhab, dan bukan pula oleh para tabi’in bahkan sahabat dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Melainkan dakwah salafiyyah didirikan oleh Allah Ta’ala. Karena para Nabi dan orang sesudah mereka menyampaikan syari’at yang berasal dari Allah ta’ala sehingga tidak ada yang bisa dijadikan rujukan melainkan nash dan ijma’.
Dakwah salafiyah adalah dakwah yang menyeru pada pemahaman para salaf dalam beragama.
Karena para salaf tersebut adalah generasi terbaik dalam islam yang mana pemahaman agama mereka yang paling baik dan harus kita ikuti
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Yang artinya , “Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian generasi setelahnya dan kemudian generasi setelahnya.(HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638).
Oleh sebab itu dalam dakwah salafiyyah tidak memiliki ketua, cabang, tata tertib, kaderisasi dan tokoh pendiri.
Bagi kita yang sudah belajar bahasa Arab tentu mereka paham, bahwa kata “Salaf” apabila ditambahkan huruf “Yaa Nisbah” maka artinya adalah penisbatan kepada salaf. Contoh nya adalah kata islami adalah penisbatan kepada islam.
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya yang hendak akan meninggal,
Yang artinya “Susul-lah para salaf (pendahulu) kita yang shalih, Utsman bin Mazh’un”. ( HR. Ath Thabrani dalam al Mu’jam al Autsath no.5736).
Jika ada yang berkomentra “Salafi itu Keras, Menang Sendiri, Suka membid’ah bid’ahkan , mengkafirkan”. Bisa jadi ini adalah ulah “Oknum” yang mengaku-ngaku, tetapi jangan di generalisasi.
Karena para salaf megajarkan agar dakwah dengan lembut, menghindari depat kusir, meskipun kita menang dalam hal ilmu, murah senyum dan berwajah ceria serta menginginkan kebaikan kepada saudaranya. Dan juga Para salaf mengajarkan agar tidak sembarangan dalam membid'ahkan dan menetapkan orang menjadi kafir. Karena Kehormatan seorang muslim itu tinggi.
Jika benar seseorang melakukan bid’ah dan syirik, maka pelakunya belum tentu langsung otomatis dicap sebagai ahli bid’ah dan ahli syirik karena bisa jadi terdapat udzur syar’i.
Ingatlah bahwa para salaf mengajarkan, dakwah adalah untuk kebaikan kepada saudaranya, harus menggunakan cara yang baik dan lembut dan tepat keadaan.
Tidak boleh dimusuhi karena mereka adalah saudara kita dan memiliki hak-hak persaudaraan sesama muslim.
Baca Juga : Dakwah Bagi Wanita
Penutup
Agama adalah sebuah Nasehat, Maka dengan ini kami menasehati diri sendiri dan kaum muslimin sekalian untuk menjadi salafi yaitu dengan cara mengikuti dan menjalankan Islam dengan apa yang telah dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipahami oleh generasi para salafush sholeh.
Wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk beragama islam dengan manhaj salaf. Dan Salaf bukan lah suatu organisasi, perkumpulan atau yayasan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda mensifati sebuah golongan yang selamat dari perpecahan dunia dan siksa akhirat, yang biasa disebut dengan istilah Al Firqah An Najiyah, Al-Jamaah atau Al Ghurabaa’, beliau bersabda,
“Mereka adalah orang-orang yang beragama sebagaimana caraku dan cara para sahabatku pada hari ini.“ (HR.Ahmad dinukil dari Kitab Syaikh Shalih Fauzan hal. 11).
Maka pertanyaan yang seharusnya ditanyakan kepada diri kita sendiri adalah “apakah aqidah kita, ibadah kita, dakwah kita, sudah selaras dengan Pemahaman Rasul dan para sahabat ataukah belum ?
Marilah kita ikuti dakwah Rasul serta para sahabat dan juga ulama Salaf dari zaman ke zaman. Terus pelajari aqidah dan manhaj yang benar, sadarilah kita semua telah mendapat larangan dari Allah ta’ala dengan firman-Nya yang artinya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (Q.S Al-Israa’ : 36).
Tetaplah Pegang kuat Aqidah kita ini.
Baca Juga : Akidah Para Nabi !!
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S Yusuf : 108).
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah berkata: “Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam semua diampuni oleh Allah. Wajib mengikuti metode beragama para sahabat, perkataan mereka dan aqidah mereka sebenar-benarnya.” (I’lamul muwaqqin, (120/4), dinukil dari Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, Abdussalam Bin Salim As Suhaimi).
Semoga dengan tulisan yang singkat ini dan jauh dari kata sempurna memberikan manfaat dan Allah Ta'ala menerima semua amal-amal kita. Karena yang benar bersumber dari Allah Ta’ala dan yang salah berasal dari kami dan dari syaithan. Dan semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, Yaitu jalan yang di tempuh oleh orang – orang yang diberi nikmat, bukanlah jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat.
Amiinn...
Sumber Artikel
[2] Dinukil dari tulisan Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari.
[3] Dinukil dari tulisan Ustadz Sofyan Chalid Ruray.
[4] Dinukil dari tulisan Ustadz Raehanul Bahraen.
[5] Dinukil dari tulisan Ustadz Yulian Purnama.






Mohon untuk berkomentar dengan baik dan bijak
EmoticonEmoticon